Rugi Wajar di Awal: Mengapa Saham Pemula Saya Turun Terus?

Dua tahun lalu, saya beli saham pertama dengan penuh semangat. Nama emitennya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saya inget bangeet, harganya di kisaran Rp 4.000-an per lembar. Seminggu kemudian, turun ke Rp 3.800. Dua minggu berikutnya, Rp 3.600. Saya mulai gelisah. Setiap kali buka aplikasi, angka merah di portofolio seolah berteriak, “Salah beli, nih!”
Pengalaman ini bukan cuma milik saya. Hampir semua investor pemula, termasuk teman-teman di Pontianak, pernah ngerasain hal serupa. Pertanyaan yang langsung muncul di benak, “Apa yang salah? Apakah saya sudah milih saham yang buruk?” Jawabannya, belum tentu. Fluktuasi harga saham dalam jangka pendek itu normal, bahkan wajar. Sebagai pemula, memahami kenapa ini terjadi dan gimana nyikapinnya adalah keterampilan paling krusial sebelum Anda mutusin jual dalam keadaan panik.
Mengapa Harga Saham Pemula Saya Bisa Turun?
Banyak pemula nganggep harga saham kayak harga bensin. Naik perlahan, turun juga perlahan. Kenyataannya, harga saham bergerak liar setiap detik karena dipengaruhi hukum permintaan dan penawaran. Ketika lebih banyak orang mau jual saham daripada beli, harga otomatis turun. Sederhana, tapi menyakitkan Pengalaman serupa saya tulis di kredit.
Ada tiga penyebab utama penurunan harga yang perlu Anda pahami. Pertama, sentimen pasar. Berita buruk di media nasional, kayak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, bisa bikin investor panik dan jual sahamnya. Kedua, kinerja perusahaan. Kalau emiten ngelaporin laba bersih yang lebih rendah dari prediksi analis, harganya bisa langsung terpangkas. Ketiga, aksi korporasi kayak right issue atau pembagian dividen yang bikin harga saham menyesuaikan (teoritis turun). Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) nyatet, rata-rata volatilitas harian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025 mencapai 0,8-1,2%. Artinya, naik turun Rp 50-100 per saham dalam sehari adalah pemandangan biasa.
Jadi, pas saham Anda turun, jangan langsung nyalahin diri sendiri. Cek dulu: apakah penurunan ini karena faktor makro (seluruh pasar lagi lesu) atau spesifik perusahaan? Kalau seluruh IHSG merah, saham Anda ikut merah adalah hal yang kolektif, bukan kesalahan Anda. ## Strategi Hadapi Portofolio Merah ala Investor Pontianak Catatan paralel ada di kredit modal kecil.
Sebagai orang yang tinggal di Pontianak, saya terbiasa dengan pasang surut Sungai Kapuas. Air bisa naik tinggi pas musim hujan, lalu surut drastis di musim kemarau. Sama kayak saham. Kuncinya bukan ngindarin surut, tapi tau kapan harus berlabuh dan kapan harus berlayar lagi.
Strategi pertama adalah evaluasi fundamental. Jangan bereaksi emosional. Buka laporan keuangan emiten tersebut. Apakah pendapatan dan laba bersihnya masih tumbuh? Apakah rasio utangnya sehat? Kalau fundamental perusahaan masih kuat, penurunan harga justru bisa jadi peluang. Saya pribadi punya kebiasaan ngecek rasio Price to Earning (PER) dan Price to Book Value (PBV) saham yang saya miliki setiap tiga bulan sekali. Kalau PER saham turun drastis sementara laba perusahaan naik, itu sinyal kalo saham lagi “diskon” Versi lebih panjang di kredit pilihan.
Kedua, terapin dollar-cost averaging (DCA). Ini istilah keren buat beli secara rutin dengan jumlah tetap. Misalnya, Anda rutin beli saham BBRI senilai Rp 500.000 setiap bulan. Pas harga turun, Anda kebetulan beli lebih banyak lembar dengan uang yang sama. Pas harga naik, Anda beli lebih sedikit. Hasilnya, harga rata-rata beli Anda jadi lebih rendah dari harga pasar. Strategi ini sangat efektif buat pemula karena ngilangin tekanan “harus beli di harga terendah”. ## Psikologi Pasar: Jangan Biarin Ketakutan Menguasai.
Saya pernah baca sebuah studi dari Dalbar, lembaga riset keuangan, yang nyebutin kalo investor ritel rata-rata dapet imbal hasil 3-5% lebih rendah per tahun dibandingkan indeks pasar. Penyebab utamanya bukan karena mereka salah pilih saham, melainkan karena mereka terlalu sering jual-beli gegara panik atau serakah. Fenomena ini disebut loss aversion—rasa sakit karena rugi dua kali lebih kuat daripada rasa senang karena untung. Pas portofolio Anda turun 10%, otak Anda merintahin buat “kabur” biar ga rugi lebih besar. Padahal, kalau Anda jual di titik terendah, Anda ngunci kerugian tersebut. Sementara itu, investor lain yang tetep tenang justru manfaatin momen itu buat beli lebih banyak.
Saran saya: buatlah aturan sendiri. Misalnya, “Saya ga bakal jual saham ini kecuali ada perubahan fundamental yang jelas, kayak pergantian direksi utama yang kontroversial atau penurunan pendapatan dua kuartal berturut-turut.” Aturan ini bakal jadi jangkar Anda pas badai pasar datang. Ingat, pasar saham adalah alat buat mindahin kekayaan dari yang ga sabar kepada yang sabar.
Kapan Waktu yang Tepat buat Cut Loss?
Meskipun saya nganjurin buat ga panik, ada kalanya Anda harus nerima kenyataan dan jual saham. Ini disebut cut loss. Tapi kapan tepatnya? Jangan asal jual karena harga turun 5% atau 10%. Cut loss sebaiknya dilakukan ketika alasan awal Anda beli saham tersebut udah ga berlaku.
Contohnya, Anda beli saham perusahaan ritel karena yakin daya beli masyarakat bakal naik setelah Lebaran. Tapi ternyata, laporan penjualan kuartal berikutnya justru turun 20% gegara persaingan ketat dari toko online. Di sinilah Anda perlu realistis. Kalau proyeksi awal Anda meleset, lebih baik akui kesalahan dan alihin dana ke saham lain yang lebih prospektif. Batas cut loss yang umum dipake investor profesional adalah 15-20% dari harga beli. Namun, ini bukan angka mutlak. Saya lebih nge-tekankan pada disiplin: tentuin batas kerugian maksimal Anda sebelum beli saham, lalu patuhi. Jangan biarin kerugian kecil berubah jadi bencana besar cuma karena Anda berharap harga bakal naik lagi. Buat referensi lebih lanjut tentang cara baca laporan keuangan perusahaan, Anda bisa kunjungi situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di www.ojk.go.id buat pelajari dasar-dasar analisis fundamental. .
Jadi investor pemula emang penuh ketidakpastian. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Setiap penurunan harga adalah ujian kesabaran dan disiplin Anda. Selama Anda berpegang pada prinsip fundamental yang kuat, ga bereaksi berlebihan terhadap berita sesaat, dan terus belajar dari pengalaman, portofolio merah suatu hari bakal berubah jadi biru. Saya sendiri butuh waktu hampir setahun buat bener-bener tenang liat saham saya turun 10% tanpa ngerasa pengen jual semuanya. Dan pas saya berhasil lewatin fase itu, imbal hasil jangka panjang saya justru mulai keliatan. Jadi, nikmatin prosesnya. Karena investasi bukan lari sprint, melainkan maraton seumur hidup.
Selengkapnya di: sumber resmi.
Mungkin menarik: Kredit pemula
Catatan: sumber resmi
